いらしゃいます!!

ここはりんのせかい。。。

みんなーさま、りにゅとブログよこそいらしゃいました!

チャットはわすれないで!^^

ありがとうございました!!

Tampilkan postingan dengan label cerita rohani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita rohani. Tampilkan semua postingan

Janji Tuanku

Minggu, 17 Juni 2012
Arthur Ashe adalah petenis kulit hitam dari Amerika yang memenangkan tiga gelar juara Grand Slam; Amerika Open (1968), Australian Open (1970), dan Wimbledon (1975). Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yang mengharuskannya menjalani operasi by pass. Setelah dua kali operasi, bukannya malah sembuh ia malah harus menghadapi kenyataan pahit, terinfeksi HIV melalui tranfusi darah yang ia terima. Ada seorang penggemarnya menulis surat kepadanya, "Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit itu?" Ashe menjawab, "Di dunia ini ada 50 juta anak yang ingin bermain tenis, 5 juta di antaranya bisa belajar bermain tenis, 500 ribu bisa belajar menjadi pemain tenis profesional, 50 ribu bisa bertanding di arena, 5 ribu mencapai turnamen Grand Slam, 50berhasil sampai ke Wimbledon, 4 orang sampai di semi final, lalu 2 orang berlaga di final. Dan ketika akhirnya saya mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan, 'Mengapa aku?' Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tiddak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan, 'Mengapa aku?'"

    Sadar atau tidak sadar, sering kita merasa pantas menerima hal-hal yang baik didalam hidup ini; kesuksesan, kesehatan, kebahagiaan, kekayaan, dll; sehingga ketika yang kita terima justru sebaliknya; penyakit, kesulitan, kegagalan, penderitaan, dll; kita menganggap Tuhan tidak adil dan menggugat Tuhan, "Tuhan, aku sudah melayani-Mu, aku rajin ke gereja, aku membaca Alkitab setiap hari, juga berdoa 3 kali sehari, tapi kenapa aku mendapat musibah seperti ini?!" Kemudian pelan-pelan kita mulai mundur dari hidup gereja dan meninggalkan Tuhan. Akhirnya sebagai hamba Tuhan, kita tidak lagi setia pada Tuan kita.
    Seekers, dari zaman ke zaman, umat Allah mengalami malapetaka, kesulitan, penderitaan, penganiayaan dan kesesakan. Dalam menghadapi masa-masa sulit itu, reaksi umat Allah terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang tidak datang kepada Tuhan, menggugat Tuhan karena tidak adil, membenarkan diri sendiri, tawar hati, lalu meninggalkan Tuhan dan persekutuan dalam hidup gereja. Atau mungkin mereka masih ada di dalam gereja, tapi hanya sekedar 'setor muka', tidak berfungsi atau melayani Tuhan. Inilah kelompok hamba yang tidak setia. Kelompok ke-2 adalah mereka yang dalam masa-masa sulitnya tetap percaya dan bersandar Tuhan sehingga meskipun situasi mereka kacau balau, menderita, sulit, menekan, tapi di dalam mereka tetap ada damai sejahtera dan sukacita. Mereka dengan setia terus melayani Tuhan sebagai hamba-Nya. Orang yang melihat mereka tidak pernah menyangka bahwa hidup mereka berat dan susah, bahkan karena kesaksian hidup mereka orang-orang yang belum percaya bisa berkata, "Sungguh Tuhan memang ada". Inilah kelompok hamba yang setia.

Pakaian dan Makanan

Minggu, 10 Juli 2011
Ada seorang hamba Tuhan pernah bersaksi. Suatu hari ia diajak pergi ke kota besar untuk pertama kalinya. Di kota itu ada 2 tempat untuk beribadah, satu di Timur dan satu lagi di Utara.

Ketika ia dari tempat ibadah yang pertama hendak pergi ke tempat ibadah yang kedua, ia melewati banyak sekali toko yang memajang barang dagangannya. Bahkan sampai tengah malam, jemdela-jendela pajangan itu menyala terang benderang.

Setelah melihat-lihat toko-toko dengan berbagai macam barang dagangannya, banyak hal memenuhi pikirannya. Dengan demikian, ketika beliau sampai di tempat ibadah, rasanya sangat sulit untuk mengutarakan firman Tuhan. erbagai barang dagangan di toko-toko tadi telah membangkitkan keinginan mata.

SEEKers, setiap kali aku melihat-lihat baju, sepatu, tas, handphone, di mall, itu berarti aku sedang memanjakan keinginan mataku. dan itu sangat berbahaya, karena membuat aku kehilangan Tuhan.

Tentu saja kita perlu barang-barang itu, tetapi si Iblis telah memperalat semua itu untuk menguasai kita. SEEKers, mari kita berdoa agar Tuhan menjaga mata kita juga memimpin kita dalam hal makan dan berpakaian.

GBU

Berapakah Berat Sebuah Doa?

Kamis, 21 April 2011
Seorang ibu berpakaian sangat kumuh dan dengan wajah sedih memasuki sebuah toko. Ia endekati pemilik toko itu sengan sangat rendah hati dan sopan lalu memohon agar diijinkan untuk berhutang barang-barang tertentu. Dengan perlahan ibu itu menjelaskan bahwa suaminya sakit keras dan tidak bisa bekerja, padahal mereka punya 7 anak dan semuanya perlu makanan.

Mendengar itu, si pemilik toko memberi penjelasan dengan sikap merendahkan, lalu meminta ibu itu untuk meninggalkan tokonya segera.

Tetapi karena keperluan yang sangat mendesak, ibu itu sekali lagi memohon, "Tolonglah, Pak. saya akan segera membayarnya begitu suami saya bisa bekerja lagi."

Pemilik toko itu sekali lagi menjelaskan bahwa ia tidak bisa menolongnya.

saat itu ada pembeli lain yang mendengar percakapan mereka. Pembeli itu segera mendatangi pemilik toko dan berkata bahwa ia akan membayar apa pun keperluan keluarga ibu itu.

Pemilik toko itu berkata dengan suara yang terdengar sangat terpaksa, "Apakah kamu punya daftar belanjaan?"

"Ya, Pak."

"Oke, taruhlah daftarmu itu di timbangan ini dan seberat apa daftar belanjaanmu itu, seberat itu pula barang yang bisa kamu ambil dengan gratis."

Ibu itu diam sejenak dengan kepala tertunduk, lalu ia merongoh isi dompetnya mengeluarkan selembar kertas dan mencoret-coret sesuatu di atasnya. Kemudian, ia meletakkan kertas itu di timbangan dengan hati-hati dan tetap dengan kepala tertunduk.

mata pemilik toko itu dan mata para pembeli terbelalak lebar keheranan melihat timbangan itu bergerak turun dan tidak naik lagi.

sambil memandang timbangannya, pemilik toko itu berteriak marah, "Ini sangat mustahil!"

Ibu itu dengan tersenyum mulai menaruh barang-barang di timbangan. Timbangan itu ,asih juga belum bergerak, maka ibu itu mulai menaruh barang-barang lebih banyak lagi. Dan timbangan itu tetap masih belum bergerak sampai timbangan itu tidak ada tempat lagi untuk menaruh barang-barang belanjaan.

Pemilik toko berdiri dengan wajah cemberut.

Akhirnya, ia mengambil kertas yang ditaruh di atas timbangan dan membacanya dengan terheran-heran luar biasa. itu bukan daftar belanjaan, itu adalah sebuah doa yang mengatakan, "Tuhan yesus yang tercinta, Engkau tahu keperluanku. Aku menyerahkan hal ini ke dalam tangan-Mu."

Pemilik toko itu memberikan semua barang belanjaan yang ada di atas timbangan tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Setelah berterimakasih pada pemilik toko, si Ibu itu meninggalkan toko dengan perasaan penuh syukur.

Pembeli yang ingin berbuat aik itu menyerahkan sejumlah uang kepada pemilik toko dan berkata, "setiap sen dari uang ini sangat berharga."

Ternyata pemilik toko itu baru tahu kalau timbangannya rusak.

SEEKers, hanya Tuhan yang tahu betapa beratnya sebuah doa. Apa pun masalahmu, sedang jengkel dengan adik atau kakakmu, merasa orang tuamu tidak bisa mengerti dirimu, sedang panik karena ada banyak sekali tugas, ada kesulitan keuangan, ada yang sakit, ada yang rusak, katakan semuanya kepada Tuhan dan minta tolonglah pada Tuhan. maka kamu akan menemukan ternyata Tuhan memandang doamu berat juga.


Ibrani 13:5

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."

~Hanya Beberapa Halaman Saja~

Sabtu, 05 Maret 2011
Di India seorang penumpang kereta api pernah diberi sebuah buku kecil. Sesudah membuka-buka halamannya, sadarlah ia bahwa buku kecil itu adalah Kitab Injil Yohanes. Karena sangat membeci agama Kristen serta Alkitab,  maka ia menyobek-nyobeknya dan melemparkan sobekannya keluar jendala gerbong kereta api.

Beberapa kuli sedang memperbaiki rel kereta api. Salah seorang di antara mereka membungkuk dan memungut secarik kertas di pinggir rel. Kertas itu sangat kecil, hanya memuat dua kata saja. Namun kedua kata itu dicetak dalam bahasa yang dapat dibaca oleh kuli tadi: "Roti Hidup".

Ia amat terkesan. Berkali-kali ia mengucapkan kedua kata itu dengan keras: "Roti Hidup. Roti Hidup. Roti Hidup." "Itulah yang sedang aku cari. Dimanakah aku dapat memperolehnya?"

Pada waktu kuli itu mulai bertanya-tanya, ada orang lain yang mengatakan, "Kedengarannya seperti berasal dari kitab suci orang Kristen. Hati-hati, nanti kamu tersesat gara-gara kitab suci itu,"

Tetapi kuli itu sangat penasaran, apa arti "Roti Hidup". akhirnya, ia menemui sekelompok kecil orang Kristen. Dan melalui peristiwa itu, ia pun mulai mengenal Tuhan Yesus, Sang Roti Hidup, dan diselamatkan.

Di Jepang pernah ada seorang pemuda berumur 14 tahun yang melarikan diri dari kampung halamannya ke ibu kota, Tokyo. Perbuatan nekat itu, adalah untuk meraih pendidikan setinggi mungkin. Untunglah, ada seorag kepala sekolah yang mau menampung dan mengarahkan anak remaja itu. Ia diberi pekerjaan pada sebuah percetakan, dan diizinkan masuk kelas-kelas khusus pada malam hari.

Di dekat pintu gerbang tempat percatakan itu mengalir sebuah sungai. dan suatu hari, di seberang sungai itu berkumpul segerombolan kaum muda yang bernyanyi dan berbicara kepada orang-orang yang lewat di jalan.

Pemuda tadi merasa tertarik. Ia menyebrangi jembatan dan mendekati kelompok itu. Ia benar-benar binggung mendengar apa yang mereka ceritakan, ia sama sekali tidak mengerti.

Seseorang memberinya sebuah traktak injil bergambar bulan purnama yang sedang bersinar di waktu malam, dan dua ekor singa sedang mengaum. Di bawah gambar itu tertera dua kalimat ini: "sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya."

Pemuda itu sama sekali tidak tahu bahwa ia sedang membaca 1 Petrus 5:8. Ia tidak tahu-manahu tentang alkitab. Bahkan ia belum pernah mendengar teantang adanya orang Kristen. NAmun dalam kutipan ayat itu tidak bisa terlepas dari ingatannya. Berkali-kali ia mengulangi ayat itu sambil merenungkannya.

Gara-gara ayat itu, Ia menjadi dekat dengan kelompok Kristen, dan mulai mengenal Tuhan Yesus. Kemudian, ia menjadi seorang pemimpin Bala Keselamatan-bukan hanya di tanah airnya saja, melainkan di seluruh benua Asia!

~Bumi itu bulat~

Kamis, 03 Maret 2011
Dalam anggapan orang-orang dunia, Alkitab itu sudah kuno, ketinggalan zaman, sedangkan ilmu pengetahuan itulah yang baru dan modern. Sampai-sampai orang buta ilmu pengetahuan pun menyanjung-nyanjung ilmu pengetahuan dan meremehkan Alkitab.

Kalau kamu bertanya pada orang-orang yang meremehkan Alkitab itu, kitab apakah yang ada di urutan pertama dalam Alkitab? Ternyata mereka tidak tahu. Jadi, mereka meremehkan Alkitab padahal mereka tidak menguasai Alkitab dan juga ilmu pengetahuan.

Menurutmu, apa sih yang diselidiki dan diceritakan oleh ilmu pengetahuan? Apa pun yang diselidiki dan dipelajari oleh ilmu pengetahuan, semuanya adalah benda-benda ciptaan Allah dalam alam semesta. Sedangkan Alkitab justru adalah tulisan yang diilhamkan oleh Allah, Sang Pencipta alam semesta itu.

Jadi, apa yang mau kamu katakan? Mungkinkah ilmu pengetahuan lebih modern dari Alkitab? Mungkinkah Alkitab tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan? [Jika penyelidikan ilmu pengetahuan benar, maka ia pasti tidak akan bertentangan dengan Alkitab.]

Menurut anggapan orang-orang Yunani kuno, langit adalah suatu tutup bulat, sedang bumi adalah dataran yang di tengah-tengahnya berdiri suatu makhluk raksasa yang disebut "Atlas", tangannya menahan langit sehingga langit tidak runtuh.

Orang-orang India kuno menganggap bumi itu persegi, yang pada keempat sudutnya masing-masing  ada seekor buaya raksasa yang memanggulnya sambil mengapungkan diri di permukaan laut alam semesta.

Dongeng China kuno mengatakan, langit bulat, bumi datar yang permukaannya miring, sehingga timbullah istilah "Phei" [utara] yang artinya "atas" dan "Nhan" [selatan] yang artinya "bawah".

Sewaktu Colombus menemukan satu benua besar yang baru, barulah terbukti bumi itu bulat, dan segera fakta ini menjadi pembicaraan orang banyak.

Lalu apa yang dikatakan Alkitab? [Lebih dari 2.500 tahun yang lampau, Alkitab sudah mengatakan bahwa bumi itu bulat (Yesaya 40:22)]

Ketika Tuhan Yesus menyampaikan tanda-tanda tentang kedatangan-Nya kali kedua. Dia juga menyiratkan bahwa bumi itu bulat. Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa Dia akan datang di pagi hari atau siang hari atau malam hari. Mengapa? [Karena waktu pagi di belahan bumi berarti mungkin siang atau malam di belahan bumi yang lain.]

Perhatikan apa yang dikatakan Tuhan, "..ada dua orang di atas satu tempat tidur, ...ada dua orang perempuan bersama-sama menggiling, ...ada dua orang di ladang" (Lukas 17:34-36)

Kalimat pertama jelas menunjukkan waktu malam, yaitu waktu tidur. Kalimat kedua menunjukkan waktu pagi dan malam, karena menurut kebiasaan di negara Timur, wanita-wanita itu menggiling di waktu pagi dan malam. Sedangkan kalimat ketiga menunjukkan waktu siang, yaitu sewaktu petani bekerja di ladang.

Ini jelas mengungkapkan bahwa bumi itu bulat, karena ketika Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya, pada belahan bumi yang lainnya malam, sedang pada sisi-sisi masing-masing belahan fajar atau senja.

SEEKers, Alkitab tidak mungkin salah karena Alkitab adalah firman Allah.

~Joe~

Minggu, 20 Februari 2011
Dulu, ada seorang bernama Joe. Ia pemabuk dan punya kebiasaan yang sangat buruk sehingga terkenal karena reputasinya yang jelek. Benar-benar tak berpengharapan.

Tetapi, sutu hari, ia menerima Tuhan Yesus menjadi Juruslamatnya, dan sungguh ajaib, benar-benar mujizat, karena segala sesuatunya berubah drastis.

Joe menjadi orang yang paling memperhatikan orang dan mengasihi orang. Ia meluangkan waktunya di post injil, melakukan apa saja yang bisa dikerjakannya. Tidak ada satu pekerjaan pun yang dianggapnya terlalu rendah dan menjijikkan, entaj itu membersihkan muntahan orang-orang yang mabuk, atau menyikat WC yang ditinggalkan pemakainya dengan sangat jorok. JOe mengerjakan semuanya itu dengan sikap yang terpuji.

Ia termasuk orang yang bisa dikatakan mengayomi smua anak-anak jalanan. Siapapun yang luntang-lantung di jalanan akan diberinya makan, diberi pakaian bahkan diselimuti. Begitu giatnya ia mengurusi orang-orang itu, sampai-sampai ia melupakan dirinya sendiri.

Suatu malam, setelah seorang hamba Tuhan menyampaikan kotbahnya kepada pata pemabuk dan anak-anak jalanan itu, salah seorang dari mereka berdiri dan datang mendekati mimbar lalu berlutut dan berdoa sambil menangis keras-keras, mohon agar Tuhan membantunya untuk berubah. Pemabuk yang bertobat itu terus berteriak, "Ya Tuhan, jadikanlah aku seperti Joe! Jadikan aku seperti Joe!"

Hamba Tuhan itu segera mendatanginya dan berkata, "Anakku, lebih baik kamu berkata 'jadikan aku seperti Tuhan Yesus'."

Setelah berpikir sejenak, orang itu mendongak dengan wajah yang penuh rasa ingin tahu. Ia bertanya, "Apakah Tuhan Yesus seperti Joe?"

SEEKers, apakah orang lain bisa melihat Tuhan Yesus di atas dirimu?

~alangkah bodohnya~

Rabu, 16 Februari 2011
Ada seorang pengemis melihat pengumuman yang ditempel di luar pintu gerbang istana. Raja akan mengadakan perjamuan makan malam dan raja mengundang seluruh rakyatnya dengan syarat, siapa pun yang datang harus berpakaian seperti seorang bangsawan.

Pengemis itu melihat bajunya yang compang camping lalu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi, tiba-tiba ia mendapatkan ide. Kegilaan ide itu membuatnya gemetar. Beranikah ia melakukannya?

Ia berjalan ke istana lalu mendekati seorang penjaganya di pintu gerbang. "Tolonglah, tuan. Saya ingin berbicara dengan raja."

"Kamu ingin menemui aku?" tanya raja

"Ya, rajaku. Saya sangat ingin menghadiri jamuan makan malam itu, tetapi saya tidak punya pakaian yang pantas. Maafkan saya, rajaku, bolehkah saya meminta satu pakaian saja?"

Pengemis itu gemetar hebat ketika ia mengutarakanmaksudnya sehingga ia tidak melihat senyum ramah di wajah raja.

"Tindakanmu tepat sekali dengan datang kepadaku," kata raja. Lalu raja itu memanggil putranya, sang pangeran. "Bawa laki-laki ini ke ruangan gantimu dan berikan baju yang cocok untuk perjamuan malam ini."

Pangeran mengerjakan apa yang telah diperintahkan raja. Tak lama kemudian, pengemis itu sudah berdiri di depan cermin, mengenakan pakaian yang luar biasa indah, yang belum pernah ia lihat atau bayangkan sebelumnya.

"sekarang kamu sudah layak untuk menghadiri jamuan makan malam raja," kata pangeran. "Tetapi, ada yang lebih penting lagi yang perlu kamu ketahui, jangan memakai pakaian lamamu lagi, pakailah pakaian baru ini terus-menerus karena pakaianmu ini akan bertahan selamanya, tidak akan pernah rusak."

Pengemis itu langsung berlutut "Ohhhh....terima kasih...terima kasih banyak pangeranku," katana.

Ketika ia hendak berjalan pergi, ia melihat karung kotor berisi baju-bajunya yang compang-camping tergeletak di atas lantai. Ia mulai bimbang. Haruskah ia meninggalkannya? Bagaimana jika apa yang dikatakan pangeran itu, tidak benar? Bagaimana jika suatu hari bajunya rusak dan ia tidak punya baju lagi? Maka ia segera mengambil lagi karung itu.

Perjamuan makan itu luar biasa hebat, si pengemis tidak begitu menikmatinya karena karung yang ia bawa-bawa itu terus melorot dari pangkuannya. Padahal makanan terus berdatangan dengan cepat sehingga pengemis itu kehilangan beberapa makanan utama yang enak dan begizi karena ia harus ke bawah meja membereskan karungnya.

Waktu membuktikan bahwa apa yang dikatakan pangeran itu benar. Pakaiannya masih bagus dan sepertinya akan bertahan selama-lamanya. Tetapi anehnya pengemis itu masih senang dengan karungnya.

Dengan berlalunya waktu, orang-orang sudah tidak memperhatikan lagi pakaian pemberian pangeran yang dipakainya itu, mereka bahkan telah melupakannya. Yang mereka lihat hanyalah bundelan karung berisi pakaian compang-camping yang ia gantung di bahunya dan dibawa-bawa ke mana pun ia pergi. sampai-sampai ia dijuluki "laki-laki tua dengan karungnya."

suatu hari, menjelang kematiannya, raja mengunjunginya. Pengemis itu melihat betapa sedih sang raja ketika ia melihat karung kotor di sebelah ranjang.

Saat itu juga, ia teringant apa yang dikatakan pangeran kepadanya dan ia mulai menyadari kebodohannya. Ia telah mengabaikan kesempatan hidup sebagai seorang bangsawan selama ini gara-gara karung kotornya itu. Penyesalan yang terlambat.

"Pahlawan Iman yang Tegar di Tegah Badai"

Pada awal abad ke-16, banyak misionaris yang berasal dari Amerika dan Eropa diutus ke negeri Cina. Pada Tahun 1987, terjadi bentrokan antara Perkumpulan Pedang Besar dengan umat Kristen sehingga jatuh dua korban jiwa berkebangsaan Jerman, dan berakibat didudukinya kota pelabuhan Kiao Chou oleh Jerman. Kemudian pemimpin dari Perkumpulan Pedang Besar mengganti nama perkumpulannya menjadi Tinju Keadilan dan Keserasian, dengan slogannya yang berbunyi "Lindungi Qing, bantai orang asing".
Peristiwa inilah yang kemudian memicu terjadinya pemberontakan anti orang asing yang terkenal dengan nama Pemberontakan Boxer di Cina. Pada masa ini, banyak orang Kristen yang mati syahid. Namun demikian, Allah menggerakkan para pekerja-Nya yang juga berasal dari negara Cina itu sendiri. Banyak pemberita Injil lokal yang bangkit memerluas berita Injil, salah satu di antaranya adalah Watchman Nee.
Watchman Nee lahir pada tanggal 4 November 1903 di Foochow, tenggara Cina. Ibunya yang bernama Piece Lin sudah memiliki dua anak perempuan saat mengandung Watchman Nee. Saat itu dalam tradisi Cina, anak laki-laki lebih disukai dibandingkan anak perempuan. Oleh karena itu, timbul kekuatiran dalam hati Piece Lin, kalau-kalau anak ketiganya ini adalah anak perempuan lagi. Ditambah lagi, banyak orang yang mengatakan kepadanya bahwa ia akan mengalami hal yang sama dengan saudara perempuan suaminya, yang melahirkan enam anak perempuan. Oleh karena itu, Piece Lin berdoa kepada Tuhan, kalau ia memunyai anak laki-laki, maka ia akan memersembahkannya kepada Tuhan. Doanya pun dikabulkan oleh Tuhan dan ia melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Henry Nee.
Akhirnya keluarga Nee Weng Shiu, ayah Henry Nee, dikaruniai oleh Tuhan empat orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan. Sebelum mengalami kelahiran baru, Henry Nee adalah seorang anak yang berkelakuan buruk, namun demikian ia adalah seorang anak yang cerdas. Ia selalu menduduki peringkat pertama mulai dari sekolah dasar sampai saat ia bersekolah di Anglican Trinity College di Foochow.
Ia mulai menaruh perhatian serius terhadap kekristenan pada saat ia melihat perubahan hidup ibunya yang sungguh-sungguh mengalami kelahiran baru. Ia mulai menghadiri kebaktian yang dipimpin oleh Dora Yu, seorang wanita yang melepaskan kariernya sebagai seorang dokter dan menjadi seorang penginjil. Ia mulai mengalami pergumulan batin karena ada konflik dalam pikirannya antara mengikut Tuhan atau membina kariernya.
Akhirnya pada tanggal 29 April 1920, ia memperoleh kemenangan rohani, bertobat, dan mau mengikut Tuhan seumur hidupnya. Dan sesuai dengan tradisi bangsa Cina untuk memilih nama baru sesudah mengalami perubahan dalam hidupnya, ia mengganti namanya dari Henry Nee menjadi Nee To-Sheng (giring-giring penjaga) atau dalam bahasa Inggrisnya Watchman Nee. Ia memilih nama ini karena menganggap dirinya sebagai seorang penjaga yang memberi tanda dan panggilan di tengah kegelapan malam.
Diperlengkapi dan Dilatih Oleh Tuhan
Watchman Nee tidak pernah belajar di sekolah teologi. Wawasan iman dan teologinya ia peroleh dengan membaca bacaan-bacaan rohani yang ia dapat dari Margaret Barber, seorang misionaris Anglican. Buku-buku rohani yang ia baca, antara lain Pilgrim`s Progress karya John Bunyan, Biografi Hudson Taylor dan Madame Guyon, The Spirit of Christ karya Andrew Murray, Autobiografi George Muller, Church History karya John Foxe, dan sebagainya. Ia benar-benar seseorang yang tekun menggali firman Tuhan.
Pada masa-masa awal pelayanannya, ia membagi uang yang ia dapat menjadi 1/3 untuk kebutuhan pribadinya, 1/3 untuk membantu sesamanya, dan sisanya untuk membeli buku-buku rohani. Ia memeroleh lebih dari tiga ribu buku Kristen yang bermutu, termasuk karya-karya tulis orang-orang Kristen pada abad pertama.
Persekutuannya dengan Barber mengilhaminya untuk tetap setia dengan radikal terhadap salib dan mengobarkan semangatnya terhadap firman Tuhan. Setelah itu, persahabatannya dengan Miss Barber dan biografi Hudson Taylor yang ia baca, memengaruhi hubungannya dengan uang. Ia mengetahui komitmen Taylor yang hanya menceritakan kebutuhan finansialnya kepada Tuhan saja. Ia juga melihat Barber hidup dengan prinsip tersebut. Ia amat terkesan dengan cara-cara yang Tuhan lakukan untuk mencukupkan kebutuhan finansial Barber. Hal ini membuatnya semakin bertekad untuk menyerahkan segala kebutuhan hidupnya kepada Tuhan.
Setelah bertobat, ia mulai terbeban untuk memberitakan Injil kepada teman-teman di sekolahnya. Ia menulis nama tujuh puluh temannya dan secara teratur mendoakan mereka satu persatu setiap hari. Dalam beberapa bulan, hanya satu dari antara mereka yang tidak mengalami kelahiran baru! Mereka mulai mengadakan persekutuan doa di kapel Trinity dan persekutuan ini terus berkembang hingga meluber sampai ke jalanan di Foochow. Mereka juga kerap membagikan brosur yang berisi berita mengenai jalan keselamatan kepada orang-orang yang mereka temui di jalan. Setelah Pemberontakan Boxer, timbul gerakan anti Kristen (kebencian bersifat politik yang berkembang di Cina terhadap segala hal yang berbau Barat). Banyak pemimpin gereja yang mendapat tekanan dari pemerintah Cina agar berkompromi dalam beberapa hal.
Dengan demikian, Watchman Nee yang dicap sebagai pengkhotbah "radikal" mulai disingkirkan oleh rekan-rekan pelayanannya. Karena kecewa, ia pindah ke Ma-hsien, sebuah desa nelayan yang tidak jauh dari misi Barber. Di sini, ia terus mempelajari firman Tuhan secara lebih mendalam. Watchman Nee melihat banyak kaum muda yang yang haus dan lapar akan firman Tuhan karena kondisi gereja telah berubah menjadi menjadi sekularisme agama yang suam dan melumpuhkan gerakan Roh Kudus. Ditambah lagi dengan perasaan anti barat, anti Kristen, dan semangat nasionalisme menguasai banyak rakyat Cina.
Pemahamannya yang mendalam terhadap firman Tuhan membuatnya semakin teguh meresponi panggilan Tuhan. Ia bertekad untuk terus memberitakan Injil dan mendirikan gereja-gereja lokal yang memiliki pemahaman yang benar terhadap Injil.
Tahun pertama dari sebelas tahun masa pelayanannya dimulai dengan deraan penyakit TBC yang parah (tahun 1922). Dokter bahkan telah memvonis bahwa ia hanya akan bertahan hidup selama enam bulan saja. Melihat kondisinya yang parah, teman-temannya membawanya ke tempat misi Barber agar memeroleh perawatan. Meskipun sedang sakit parah, ia tidak mau menyerah. Perlahan-lahan, ia berhasil menyelesaikan bukunya yang berjudul manusia rohani. Sakitnya kian bertambah parah, namun firman Tuhan di dalam 2 Korintus 1:2; "Dengan iman kamu berdiri teguh" dan Markus 9:23; "Tidak ada yang mustahil bagi Allah", muncul dengan jelas dalam pikirannya. Ia lalu bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju rumah sahabatnya. Setiap langkah, ia berseru, "Berjalan dengan iman; berjalan dengan iman!" Saat itulah Tuhan menyembuhkannya secara ajaib.
Setelah kesehatannya pulih kembali, ia memutuskan untuk memindahkan pusat pelayanannya ke kota Shanghai. Di kota ini, ia mulai merintis pendirian gereja lokal di Hardoon Road. Gereja ini mulai bertumbuh, dan dalam waktu singkat menjadi pembicaraan orang dari seluruh pelosok provinsi, bahkan sampai ke Inggris. Charles Barlow, salah seorang anggota London Group of Brethen, berkunjung ke Shanghai. Laporannya tentang kehidupan rohani dan perkembangan gereja di Hardoon Road membuat Group of Brethren, London, mengirim satu tim menuju gereja tersebut. Mereka mengundang Watchman Nee untuk datang ke Inggris. Nee menyanggupinya, dan pada usia tiga puluh tahun ia meninggalkan Cina dan menuju Inggris.
Tanggal 19 Oktober 1934, Watchman Nee menikah dengan gadis idamannya, Charity Chang. Namun bibi Charity di Shanghai, melalui surat kabar nasional, menyerang karakter Watchman Nee. Ia dituduh melakukan transaksi yang curang dengan para investor asing. Hal ini memberikan kesempatan kepada "musuh-musuh" Watchman Nee untuk membagi-bagikan artikel yang menyerang pribadi Watchman Nee. Ia sempat mengalami depresi, namun dukungan teman-teman setianya dan pertolongan Roh Kudus membuat ia bangkit kembali. Bersama rekan-rekannya, ia lalu mencurahkan waktu untuk merintis jemaat lokal. Pada tahun 1937, ia diundang untuk memberitakan Injil di Manila.
Pada saat yang bersamaan, Jepang mulai menduduki Cina. Bersama istrinya, Watchman Nee bergegas menuju Hong Kong, yang merupakan lokasi tempat tinggal orang tua Watchman Nee. Di Hong Kong, ia berjumpa dengan rekan-rekan misionaris yang memintanya datang lagi ke Inggris. Selama empat bulan di Inggris, ia memberikan pelayanan pengajaran dan penulisan buku-buku rohani. Ia kembali mengalami dukacita saat menerima surat dari istrinya, yang memberitahukan bahwa kandungannya mengalami keguguran. Ia ingin segera kembali ke Cina, namun perang Sino-Jepang memaksanya tinggal lebih lama.
Tahun 1941, Jepang kembali melancarkan serangan hebat terhadap kota Shanghai. Gereja di Shanghai mengalami kondisi yang buruk saat Jepang akan menyerang Hong Kong, Watchman Nee menerima kabar kematian ayahnya dan kembali ke Hong Kong untuk mengatur upacara pemakaman ayahnya. Saat kembali ke Shanghai, ia mengalami krisis keuangan yang sangat parah, namun Tuhan senantiasa menolongnya. Watchman Nee menerima bantuan dari sumber-sumber yang tidak terduga. Sebagian bantuan berasal dari orang-orang Kristen di Inggris.
Saudara Watchman Nee, George, memintanya untuk menjadi mitra dalam mendirikan pabrik farmasi. Awal tahun 1942, pabrik tersebut pun didirikan. Banyak rekan kerja Watchman Nee yang bekerja paruh waktu di pabrik tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pelayanan mereka. Keputusan Watchman Nee untuk bertindak seperti Rasul Paulus yang melayani dan bekerja sendiri, membuat rekan-rekannya yang berpikiran sempit melarangnya untuk berkhotbah di gereja. Ia kemudian memindahkan pabriknya ke Chungking. Di sana, ia membuka pelatihan bagi hamba-hamba Tuhan yang berasal dari kaum awam. Bisnisnya amat berhasil, tetapi Watchman Nee tetap meluangkan waktu menjadi penginjil keliling. Atas usaha Witness Lee, para penatua di Shanghai sadar akan kelakuan mereka yang tidak terpuji terhadap Watchman Nee. Mereka kemudian mengundang Watchman Nee untuk memimpin sebuah konferensi Alkitab di Hardoon Road. Lebih dari 1.500 orang hadir untuk mendengarkan gembala mereka menyampaikan firman Tuhan.
Tanggal 31 Januari 1949, Tentara Pembebasan Rakyat pimpinan Mao Tse Tung memasuki Beijing. Ini adalah langkah awal berkuasanya kaum Komunis di Cina. Setelah Komunis berkuasa, Chou En-Lai yang menjabat sebagai perdana menteri, mengumpulkan para pemimpin gereja dan menerbitkan "Christian Manifesto for the Protestant Churches" yang berisi prinsip-prinsip gerakan kekristenan baru. Sejak saat itu, gereja mulai terikat akan peraturan-peraturan Komunisme.
21 April 1951, ribuan cendekiawan Shanghai mulai ditangkap. Pada tanggal 10 April 1952, giliran Watchman Nee yang ditangkap. Ia dituduh melanggar dan menentang "Tiga Gerakan Reformasi Diri Gereja Kristen". Ia mulai mengalami aniaya yang berat, sementara itu istrinya mengalami tekanan batin dan nyaris mengalami kebutaan akibat penyakit darah tinggi yang dideritanya. Ia menjalani perawatan dan berada di bawah pengawasan polisi. Watchman Nee sudah menjalani hukuman selama lima belas tahun, namun masih ditambah lima tahun lagi. Charity Chang, istrinya telah dibebaskan dengan kondisi kesehatan yang buruk dan menanti kepulangan suaminya di Shanghai. Namun hanya enam bulan menjelang tanggal pembebasan suaminya, ia terjatuh dan mengalami luka-luka parah yang mengakibatkan ia meninggal dunia. Ini membuat duka yang mendalam bagi Watchman Nee. Selama berada di penjara, ia ditugaskan menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Cina.
Tanggal 12 April 1972, Watchman Nee menyelesaikan masa hukumannya, tetapi ia masih belum dibebaskan. Akhirnya, pada tanggal 1 Juni 1972, Watchman Nee meninggal dunia dalam penderitaan dan kesendirian karena mengalami sakit jantung yang kronis ditambah dengan siksaan yang ia alami. Kemudian, jazadnya pun dikremasi. Saudara perempuan istrinya yang tertua menerima kabar kematiannya dan meminta abu jenazah Watchman Nee dikuburkan bersama dengan istrinya di Kwanchao, kota Haining di provinsi Chekiang.
Watchman Nee telah tiada. Ia kini berada di surga dengan Allah Bapa dan mengalami sukacita kekal. Selama pelayanannya, diperkirakan ada kurang lebih empat ratus gereja lokal yang dirintis dan didirikan olehnya. Lebih dari tiga puluh gereja lokal berdiri melalui pelayanannya di Filipina, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Indonesia. Hari ini Tuhan berkarya melalui gereja-gereja tersebut dan berkembang menjadi lebih dari 2300 gereja di seluruh dunia. 

credit : http://www.sabda.org/misi/watchman_nee

Picture of Watchman Nee~

Ganti Rugi

Minggu, 13 Februari 2011
The true story...

Sebelum dilahirkan kembali, suatu kali si tempat saya bekerja terjadi kebakaran, semua orang sibuk memindahkan barang. saat itulah saya menemukan botol tinta kecil dari porselen China dan sebuah sikat kecil buatan Barat. Saya sangat terkesan dengan barang-barang itu dan membewanya pulang untuk dipakai di rumah.

Setelah dilahirkan kembali, Roh Kudus menerangi saya dan menyuruh saya membereskan urusan barang yang tidak halal ini. Botol tintanya masih ada, tetapi sikat kecilnya sudah hilang, terpaksa diganti dengan uang.

Maka saya membawa botol tinta kecil itu dan uang satu dolar lalu pergi menemui pemiliknya. Dengan muka yang merah padam, saya mengakui bahwa dulu saya pernah mencuri dua barangnya, dan sekarang akan dikembalikan.

Ternyata ia bersikeras tidak mau menerima. setelah sya berkali-kali memohon, ia berkata, "Aku terima botol tinta ini, tetapi tidak mau menerima uang pengganti rugi."

Pada saat itu ia melihat tangan saya mebawa kalender yang ada penanggalan umum dan penanggalan China [di zaman itu kalender semacam itu sangat digemari orang dan tidak mudah mendapatkannya], lalu berkata, "Baiklah, kamu bisa mengganti sikat kecil itu dengan kalender ini."

Meskipu saya merasa sayang sekali dengan kalender itu, tetapi karena berhutang kepadanya, saya terpaksa mengiyakan.

Sambil berjalan pulang, saya merasakan persaan campur aduk, di satu pihak, saya sangat menyayangkan kalender itu, di pihak lain, saya binggung bagaimana cara mebereskan uang satu dolar itu. Maka saya berdoa, "Tuhan, alangkah baiknya kalau Engkau memberi saya seorang pengemis yang istimewa, supaya uang ini dapat saya berikan kepadanya."

Tiba di rumah, hari telah gelap, apalagi di masa peperangan itu berlaku jam malam, maka saya menutup pintu rumah rapat-rapat. Baru saja menutup pintu, tiba-tiba ada orang mengetuk pintu, ternyata ada seorang pejalan kaki yang karena seharian tidak mendapatkan makanan, datang meminta tolong.

saya rasa ini adalah pengemis istimewa yang Allah berikan kepada saya, maka saya mempersilahkannya masuk, dan memberinya makan sampai kenyang, serta memberi sedikit roti. Karena ia tidak tahu harus menginap di mana, maka saya mengantarnya mencari tempat penginapan.

dalam perjalanan, saya memberikan uang satu dolar itu kepadanya, memberitahunya bahwa semua ini telah diatur oleh Tuhan.

Berjalan sampai di satu perempatan, saya menunjukan tempat yang bisa menampungnya bermalam. Setelah mengucapkan terima kasih, ia pergi.

Saat itu, tiba-tiba ada seseorang memanggil saya dari seberang, "saudaraku, anda hendak ke mana?" Setelah ia datang, saya menceritakan pengalaman yang baru terjadi, lalu ia memberikan sebuah bungkusan kepada saya, katanya, " Ini untukmu."

Sampai di rumah, saya membukanya, ternyata sebuah kalender, persis sepertiyang tadi saya miliki. Saat ini saya sadar akan pimpinan Allah. Meskipun ini adalah perkara kecil, tetapi pengaturan dan pimpinan Allah akan perkara ini sungguh ajaib. Ini mebuktikan, Allah senang jika kita memberi ganti rugi, membereskan barang yang tidak halal.

Telah Menang

Tahun 1977 Dian Yuan Mi Zhe (dieja menurut laval), dari Jepang mengunjungi Taiwan, ia pergi berkeliling untuk bersaksi tentang keselamatannya.

Pada masa kecilnya, hidupnya berkecukupan, orang tuanya memberi segala yang dimintanya supaya ia merasa puas. Tetapi ia tidak merasa berterima kasih kepada mereka, sebaliknya ia menganggap bahwa semua itu memang sudah seharusnya ia terima.

Kerika ibunya meninggal di usianya yang ke 16, ia sangat terpukul dan mulai merasa kosong. Ia tidak tahu makna hidupnya. Ia juga bosan ke sekolah, karena ia merasa pada akhirnya ia akan mati juga, lalu untuk apa ia belajar dan untuk apa ia bekerja?

Maka ia memutuskan untuk berhura-hura saja-mabuk, dansa, pesta pora, judi, dll. tetapi setelah 2 tahun melewati kehidupan seperti itu, ia tetap merasa kosong dan tidak ingin hisup. Ia berbaring di rel kereta api untuk mengakhiri hidupnya.

Tetapi, ternyata ia masih hidup, hanya kehilangan kedua kakinya dan 1 tangannya serta 2 jari di tangan yang lainnya. Sekarang ia hanya punya 1 tangan dengan 3 jari.

Ia menjadi putus asa dan sering melakukan usaha bunuh diri. Tetapi syukurlah, ada 2 orang penginjil yang rajin mengunjunginya dan memberitakan mengenai Tuhan Yesus.

Setelah beberapa bulan, akhirnya ia pun dilahirkan kembali. Ia merasa segalanya menjadi sangat indah, hatinya penuh dengna sukacita.

Ia rajin membaca Alkitab dan terkesan  dengan ayat ini: "Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami diperbaharui dari hari ke hari." Ayat ini sangat menghibur hatinya.

Dulu, terus-menerus mengasihani diri sendiri dan merasa tidak berdaya. Sekarang ia merasa bahwa tubuhnya memang makin merosot tetapi batinnya tidak.

Sejak saat itu ia mulai belajar menulis dengan 3 jarinya. Dia mencuci rambutnya sendiri, menjahit dan memasak. Ia berpikir bahwa ia bisa hidup seperti orang yang sehat, bahkan bisa melahirkan dan merawat anak.

Ayahnya berkata, "Mi Zhe, kau sungguh luar biasa! Dibandingkan dengan kakak dan adikmu yang normal, kaulah yang paling bahagia."

Ketika ia menikah dengan penginjil yang memberitakan injil kepadanya, ayahnya sangat bergembira sampai mengucurkan air mata. Sekarang ia mempunyai 2 anak, yang satu berumur 20 tahun, yang satunya lagi berusia 18 tahun. Ia punya keluarga yang sangat bahagia.

Ada orang bertanya kepada anaknya, "Benarkah mamamu tidak punya tangan dan kaki?"

Anak itu dengan lantang menjawab, "Betul, mama saya tidak punya tangan dan kaki, tetapi ia sangat gembira."

Itulah yang dikatakan oleh kitab Yesaya 12:2-3, "Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gemetar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, ia telah menjadi keselamatanku. Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan."

Uangkan Cekmu

Seorang pengemis menghentikan seorang pengacara di tengah jalan dan meminta sejumlah uang. Sangat lama si pengacara itu memandang wajah yang keras dan tidak terawat itu, lalu bertanya, "Apakah aku pernah mengenalmu sebelumnya?"

"Ya, tentu saja," jawab si pengemis, "aku adalah teman sekelasmu. Ingat nggak, lantai dua, gedung lama?"

"Apa yang terjadi, Sam? Tentu saja aku mengenalmu!"

Tanpa bertanya lebih lanjut, si pengacara langsung menuliskan sebuah cek sebesar $ 10.000."Ini, bawalah dan mulailah dan mulalah sesuatu yang baru. Aku tidak peduli apa yang terjadi di masa lalumu, yang penting masa depanmu." Dan setelah berkata begitu, ia buru-buru pergi.

Air mata membanjiri wajah si pengemis saat ia berjalan ke bank di dekat situ. Ia berhenti di pintu, dari kaca pintu itu ia melihat orang-orang yang berpakaian rapi dan semua interior yang begitu bersih dan anggun. Lalu ia melihat bajunya yang kotor, bau, dan seperti sebuah lap. "Mereka tidak akan menerima cek ini dari AKU! Mereka akan memakiku. Udahlah lupakan saja," ia bergumam seraya berpaling pergi.

Keesokan harinya, kedua orang itu bertemu lagi. "Ada apa, Sam? Apa yang kamu lakukan dengan cek saya? Untuk judi? Mabuk?"

"Tidak," jawab si pengemis sambil menarik cek itu keluar dari kantongnya yang kotor dan bau. Ia lalu menceritakan mengapa ia tidak menguangkan cek itu.

"Sam, dengarkan," kata si pengacara itu..."apa yang membuat cek ini berlaku bukan pakaianMU atau penampilanMU, tetapi tanda tanganKU. Pergi dan uangkan segera!"

Arus Hayat~

~Pemberesan Luar Biasa~

Minggu, 06 Februari 2011

Di sebuah surat kabar Itali, muncullah berita pencarian orang yang sangat menggemparkan.

17 Mei 1992 di parkiran mobil ke 5 Wayeli [nama kota], seorang wanita kulit putih diperkosa oleh seorang kulit hitam. Karena perbuatan itu, lahirlah seoang bayi perempuan berkulit hitam. Ia dan suaminya

tiba-tiba saja harus memikul tanggung jawab untuk memelihara anak itu. Sayangnya, sang bayi kini menderita leukimia [kanker darah]. Dan ia memerlukan transfer sumsum tulang belakang segera.

Ayah kandungnya merupakan satu-satunya penyambung harapan hidupnya. Kami sangat berharap agar pelaku pada waktu itu, saat melihat berita ini, bersedia menghubungi Dr. Adely di RS Elisabeth.

Berita pencarian itu membuat seluruh masyarakat gempar. Setiap orang membicarakannya. Masalahnya adalah apakah orang hitam itu berani muncul. Padahal jelas ia akan menghadapi masalah besar.

Ia akan menghadapi masalah hukum dan ada kemungkinan merusak kehidupan rumah tangganya sendiri. Tetapi, jika ia bersikeras untuk diam, ia sekali lagi melakukan dosa yang tak terampuni.

Martha, 35 tahun, adalah wanita yang menjadi pembicaraan semua orang. Ia dan suaminya, Peterson, adalah warga kulit putih, tetapi di antara kedua anaknya, ternyata ada satu yang berkulit hitam. Hal itu

menarik perhatian setiap orang di sekitar mereka. Martha selalu tersenyum kecil dan berkata pada mereka behwa neneknya berkulit hitam dan kakeknya berkulit putih, maka anaknya, Monika, mungkin

mewarisi kulit hitam dari neneknya.

Musim gugur 2002, Monika yang berkulit hitam terus-menerus mengalami demam tinggi. Terakhir, dr. adely memvonis Monika menderita leukimia. Harapan satu-satunya hanyalah mencari pendonor sumsum

tulang belakang yang paling cocok untuknya. Dokter juga menjelaskan lebih lanjut bahwa yang paling baik adalah orang-orang yang punya hubungan darah dengan Monika. Jadi, dokter meminta seluruh

keluarga berkumpul untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang.

Raut wajah Martha berubah, tetapi tetap saja seluruh keluarga menjalani pemeriksaan. Hasilnya, tidak satu pun yang cocok. Dokter memberi tahu mereka, dalam kasus seperti Monika ini, mencari pendonor

yang cocok sangatlah kecil kemungkinannya.

Sekarang hanya ada satu cara yang paling manjur, yaitu Martha dan suaminya kembali mengandung anak lagi. Dan mendonorkan sel induk anak itu untuk Monika.

Mendengar usul ini, Martha tiba-tiba menjadi panik dan berkata tanpa suara, "Tuhan... kenapa menjadi begini?" Ia menatap suaminya, sinar matanya dipenuhi rasa ketakutan dan putus asa. Peterson

mengerutkan keningnya berpikir.

Dr. adely berusaha menjelaskan pada mereka, "Saat ini banyak orang yang menggunakan cara ini untuk menolong nyawa para penderita leukimia, lagipula cara tersebut sama sekali tidak membahayakan bayi

yang baru dilahirkan."

Martha dan Peterson hanya mendengarkan dan termenung sangat lama. Akhirnya, mereka berkata, "Kami akan memikirkannya dulu."

Keesokan harinya, ketika Dr. adely bertugas, tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka, dan masuklah pasangan suami-istri tersebut. Martha mengigit bibirnya dan suaminya, Peterson, mengenggam tangannya,

sambil berkata serius pada dokter, "ada yang  perlu kami beritahukan, tetapi kami harap Anda bisa berjanji untuk menjaga rahasia ini, karena kami sudah menyimpan rahasia ini selama 10 tahun." Dr. Adely

menganggukan kepalanya.

Sepuluh tahun yang lalu, Martha diperkosa oleh seorang berkulit hitam saat pulang kerja. Malam itu, yang bisa kami lakukan hanyalah berpelukan dengan kepedihan yang luar biasa. sepertinya seluruh langit

telah runtuh.

Tak lama kemudian, Martha mendapati dirinya hamil. Kami merasa sangat ketakutan, khawatir kalau-kalau anak yang dikandungnya merupaka milik orang hitam tersebut. Martha berencana untuk

mengugurkannya, tetapi aku masih mengharapkan keberuntungan, mungkin anak yang dikandungnya adalah bayi kami.

Begitulah, dengan ketakutan kami menunggu selama 9 bulan. Maret 1993, Martha melahirkan bayi perempuan dan ia berkulit hitam. Kami begitu putus asa, pernah terpikir untuk mengirim sang anak ke panti

asuhan.

Tetapi mendengar suara tangisnya, kami sungguh tak tega. Bagaimanapun Martha telah mengandungnya dan ia juga merupakan sebuah nyawa. Aku dan Martha adalah orang-orang yang telah dilahirkan kembali,

kami punya hati nurani. Akhirnya, kami memutuskan untuk memeliharanya dan memberinya nama Monika.

Mata Dr. adely digenangi air mata. Pada akhirnya ia memahami masalah sebenarnya. Beberapa saat kemusian, ia memandang Martha dan berkata, "Kelihatannya, kalian harus mencari ayah kandung Monika.

Barangkali sumsum tualng belakangnya cocok untuk Monika. Tetapi, apakah kalian bersedia membiarkan ia kembali muncul dalam kehidupan kalian?"

Martha berkata, "Demi anak, aku bersedia berlapang dada memaafkannya, bila ia bersedia muncul menyelamatkannya. Aku tidak akan memperkarakannya." Dr. Adely merasa terkejut akan kedalaman cinta

sang ibu.

Martha dan Peterson mempertimbangkannya baik-baik, sebelum akhirnya memutuskan memuat berita pencarian di surat kabar dengan menggunakan nama samaran.

November 2002, di surat kabar Wayeli, terbitlah berita pencarian itu. Begitu berita itu keluar, tanggapan masyarakat sangat menggemparkan.

Kotak surat dan telepon Dr. Adely kebanjiran surat masuk dan telepon. Orang-orang terus bertanya siapakah wanita itu. Mereka ingin bertemu dengannya, berharap  dapat memberikan bantuan padanya.

Tetapi, Martha menolak semua perhatian mereka, ia tak ingin mengungkapkan identitas sebenarnya, lebih-lebih tak ingin identitas Monika sebagai anak hasil pemerkosaan terungkap.

Seluruh media dipenuhi dengan diskusi tentang bagaimana cerita ini akan berakhir. Beranikah orang hitam itu muncul?

Jika orang hitam itu berani muncul, bagaimanakah masyarakat akan menilainya? akankah mereka menggunakan hukum yang berlaku untuk menghakiminya? Haruskah ia menerima hukuman dan cacian untuk masa

lalunya? Atau haruskah ia menerima pujian karena keberaniannya hari ini?

Saat itu, berita pencarian ini juga muncul di Napulese, memporakporandakan perasaan seorang pengelola toko minuman keras berusia 30 tahun. Ia seorang kulit hitam, bernama Ajili.

Tanggal 17 Mei 1992 waktu itu, adalah lembaran terkelam dalam hidupnya, merupakan sebuah mimpi terburuk di malam berhujan itu. Ia adalah sang peran utama dalam kisah ini. Tak seorang pun menyangka,

ajili yang kaya raya itu pernah bekerja sebagai pencuci piring panggilan.

Dikarenakan orang tuanya telah meninggal sejak ia masih muda, Ajili tak pernah mengenyam dunia pendidikan, maka ia terpaksa bekerja sejak muda. Ia begitu pandai dan cekatan, terus bekerja dengan giat

dan berharap mendapatkan sedikit uang juga penghargaan dari orang lain. Tetapi sialnya, bosnya merupakan seorang rasialis, yang selau mendiskriminasikannya.

Tak peduli segiat apa pun dirinya, bosnya selalu memukul dan memakinya. Tanggal 17 Mei 1992 itu, adalah ulang tahunnya yang ke 20, ia berencana untuk pulang kerja lebih awal dan merayakan ulang

tahunnya. Siapa sangka, di tengah kesibukan itu, ia memecahkan sebuah piring.

sang bos menahan kepalanya, memaksanya untuk menelah pecahan piring. Ajili begitu marah dan memukul sang bos, lalu berlari keluar meninggalkan restoran. Di tengah kemarahannya, ia bertekad untuk

membalas dendam pada si kulit putih.

Malam itu hujan sangat lebat, tidak ada seorang pun yang lewat, dan di parkiran itu, ia bertemu dengan Martha. Untuk membalaskan dendamnya akibat pendiskriminasian, ia pun memperkosa Martha yang tak

berdosa itu.

Tetapi setelah itu, Ajili panik dan ketakutan. malam itu juga, ia menggunakan uang ulang tahunnya untuk membeli tiket Kereta api menuju Napulese, meninggalkan kota Wayeli.

Di Napulese, ia menemukan keberuntungan. Ajili mendapatkan pekerjaan dengan lancar di toko milik orang Amerika. Pasangan suami istri Amerika itu sangat mengagumi kemampuannya. Akhirnya menikahlah dia

dengan anak perempuan mereka, Lina. Sejak saat itu, Ajili dipercaya untuk mengelola sebuah toko minuman keras.

Beberapa tahun itu, ia yang begitu tangkas, tak hanya memajukan bisnis toko minuman kerasnya, ia juga memiliki 3 anak lucu. Di mata pekerja lainnya dan seluruh anggota keluarga, Ajili merupakan bos yang

baik, suami yang baik, dan ayah yang baik.

Tetapi hati nuraninya tetap membuatnya tak melupakan dosa yang pernah diperbuatnya. Ia sering berdoa dan mohon ampun pada Tuhan. Ia sangat berharap Tuhan melindungi wanita yang pernah diperkosanya.

Ia juga berdoa agar wanita itu selalu hidup damai dan tentram. Ia menyimpan rahasiannya rapat-rapat, tak pernah memberi tahu siapa pu.

Pagi hari itu, Ajili berkali-kali membolak-balik surat kabar, ia terus mempertimbangkan kemungkinan dirinyalah pelaku yang dimaksud. sedikit pun ia tak pernah membayangkan wanita malang itu mengandung

anaknya, bahkan memikul tanggung jawab menjaga anak yang seharusnya bukan miliknya.

Hari itu, Ajili beberapa kali mencoba menghubungi nomor telepon Dr. Adely. Tetapi setiap kali, sebelum sempat menekan habis nomornya, ia segera membatalkannya.

Hatinya terus bertentangan, bila ia bersedia mengakui semuanya, kelak setiap orang akan mengetahui sisi terburuknya ini, anak-anaknya tidak akan mencintainya lagi, ia akan kehilangan keluarganya yang

bahagia dan istrinya yang dicintainya. Ia juga akan kehilangan penghormatan masyarakat di sekitarnya. Padahal semuanya itu diperolehnya dengna kerja keras selama bertahun-tahun.

Malam itu, saat makan bersama, seluruh keluarga mendiskusikan kasus Martha. Istrinya, Luna berkata, "Aku sangat mengagumi Martha. Bila aku di posisinya, aku tidak akan memiliki keberanian untuk

memelihara anak hasil pemerkosaan hingga dewasa. Aku lebih mengagumi lagi suami Martha, ia sungguh pria yang patut dihormati, tak disangka ia dapat menerima anak yang demikian."

Ajili termenung mendengarkan pendapat istrinya, dan tiba-tiba ia mengajukan pertanyaan, "Kalau begitu, bagaimana kau memandang pelaku pemerkosaan itu?"

"sedikitpun aku tak memaafkannya!!! waktu itu sudah membuat kesalahan, kali ini ia juga cuma meringkuk menyembunyikan dirinya sendiri, ia benar-benar begitu rendah, begitu egois, begitu pengecut!"

demikian istrinya menjawab dengan dipenuhi api kemarahan. Ajili mendengarkan saja, tak berani mengatakan apa pun pada istrinya.

Malam itu, anaknya yang baru berusia 5 tahun begitu rewel dan tidak bersedia tidur, untuk pertama kalinya Ajili kehilangan kesabaran dan menamparnya. Sang anak sambil menangis berkata, "Kau ayah yang

jahat, aku tak ingin kau menjadi ayahku!"

Hati Ajili terpukul keras mendengarnya, ia pun memeluk erat-erat sang anak dan berkata, "Maaf, ayah tak akan memukulmu lagi. Ayah yang salah, maafkan ayah."

Sampai di sini, ajili pun tiba-tiba menangis. sang anak terkejut dibuatnya, dan buru-buru berkata padanya untuk menenangkan ayahnya, "Baklah, kumaafkan. Guru TK ku bilang, snsk ysng baik adalah anak

yang mau memperbaiki kesalahannya."

Malam itu, Ajili tak dapat tidur, ia merasa dirinya bagaikan terbakar dalam neraka. Di matanya selalu terbayang kejadian di malam berhujan deras itu. Ia sepertinya dapat mendengarkan jerit tangis wanita

itu.

Mendengar bunyi napas istrinya yang teratur, ia pun kehilangan seluruh keberaniannya untuk berdiri. Hari kedua, ia hampir tak tahan lagi rasanya. Istrinya mulai merasakan adanya ketidakberesan pada

dirinya, memberikan perhatian padanya dengan menanyakan apakah ada masalah. Dai ia mencari alasan untuk meloloskan dirinya.

Setelah berhari-hari memeriksa hati nuraninya, Ajili tak lagi dapat terus diam saja, ia pun menelepon Dr. adely. Ia berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya supaya tetap tenang, "Aku ingin mengetahui

keadaan anak malang itu."

Dr. Adely memberi tahu bahwa keadaan sang anak itu sanga parah, "Entah apakah ia dapat menunggu hari kemunculan ayah kandungnya." Kalimat terakhir ini menyentuh hati Ajili yang paling dalam, suatu

perasaan hangat sebagai ayah mengalir keluar, bagaimana pun anak itu juga merupakan darah dagingnya sendiri!

Ia pun membulatkan tekad untuk menolong Monika. Ia telah melakukan kesalahan sekali, tak boleh membiarkan dirinya meneruskan kesalahan ini. Malam itu juga, ia memberanikan dirinya untuk memberi tahu

sang istri tenatang segala rahasianya. Terakhir ia berkata, "Sangat mungkin bahwa aku adalah ayah Monika. Aku harus menyelamatkannya."

Lina sangat terkejut, marah, dan terluka, mendengar semuanya, ia berteriak, "Kau PEMBOHONG!" Malam itu juga ia membawa ketiga mereka dan lari pulang ke rumah ayah ibunya. Ketika ia memberi tahu ayah

ibunya tenatang kisah Ajili, mereka berusaha meredakan kemarahannya. Mereka adalah dua orang tua yang penuh pengalaman hidup, mereka menasihatinya, "Memang benar, kita patut marah terhadap segala

tingkah laku Ajili di masa lalu. Tetapi pernahkan kamu memikirkan, berapa banyak keberanian yang diperlukan Ajili untuk membereskan masa lalunya? Hal itu membuktikan bahwa hati nuraninya belum

sepenuhnya terkubur. Suami maca apa yang ingin kamu miliki, seorang suami yang pernah melakukan kesalahan tetapi bersedia memperbaiki kesalahan atau seorang suami yang menyimpan kebusukan ini

selmanya?" Mendengar itu Lina terpekur beberapa lama.

Keesokan harinya, ia langsung kembali ke sisi Ajili, menatap mata sang suami yang dipenuhi penderitaan, ia berkata, "Ajili, pergilah menemui Dr. Adely! aku akan menemanimu."

Tanggal 3 Februari 2003, suami istri Ajili menghubungi Dr. Adely. Tanggal 8 Februari, pasangan tersebut tiba di RS Elisabeth, untuk pemeriksaan DNA Ajili. Hasilnya Ajili benar-benar ayah Monika.

Ketika Martha mengetahui bahwa orang hitam pemerkosannya itu pada akhirnya berani muncul, ia pun tak dapat menahan air matanya. Sepuluh tahun ini ia terus memendam rasa dendam terhadap Ajili, namun

saat ini ia hanya dipenuhi perasaan terharu.

Segalanya berlangsung dalam keheningan. demi untuk melindungi pasangan Ajili dan pasangan Martha, pihak RS tidak mengungkapkan keadaan sebenarnya, mereka hanya memberi tahu media bahwa ayah

kandung Monika telah ditemukan.

Berita ini mengejutkan seluruh kota. Mereka teru-menerus menelepon, menulis surat pada Dr. Adely, memohon untuk dapat menyampaikan kemarahan mereka pada orang hitam itu, sekaligus penghormatan

mereka padanya. Mereka berkata, "Ia memang pernah melakukan kejahatan, namun saat ini ia adalah seorang pahlawan!"

Tanggal 10 Februari, Martha dan suaminya memohon untuk dapat bertemu muka dengan Ajili. Awalnya Ajili tak berani menemui mereka, namun pada permohonan yang ketiga, ia pun menyetujuinya. Tanggal 18

Februari, dalam ruang tertutup dan dirahasiakan di RS, Martha bertemu langsung dengan Ajili.

Mereka saling berjabat tangan. Sesaat ketiga orang tersebut diam tanpa suara menahan kepediahan, sebelum akhirnya air mata mereka sama-sama mengalir.

Dengan suara serak Ajili berkata, "Maaf...mohon maafkan aku! Kalimat ini telah terpendam dalam hatiku selama 10 tahun. Hari ini akhirnya aku mendapat kesempatan untuk mengatakannya langsung kepadamu."

Martha menjawab, "Terima kasih kau mau muncul. Semoga Tuhan memberkati, sehingga sumsum tulang belakangmu dapat menolong putriku."

Tanggal 19 Februari, dokter melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang Ajili. Untungnya, sumsum tulang belakangnya sangat cocok bagi Monika. Sang dokter berkata dnegan antusias, " Ini suatu

keajaiban!"

Tanggal 22 Februari 2003, harapan masyarakat luas akhirnya terkabul. Monika menerima sumsum tulang belakang Ajili, dan pada akhirnya Monika telah melewati masa kritis. Satu minggu kemudian, Monika

boleh keluar RS dengan sehat walafiat.

Martha dan suaminya memaafkan Ajili sepenuhnya, dan secara khusus mengundang Ajili dan Dr. Adely datan ke rumah mereka untuk merayakannya. Tapi hari itu Ajili tidak hadir, ia memohon Dr. adely

membewa suratnya bagi mereka.

Dalam suratnya ia menulis, "Aku tak ingin kembali mengganggu kehidupan tenang kalian. Aku berharap Monika berbahagia, selalu hidup dan tumbuh dewasa bersama kalian. Bila kalian menghadapi kesulitan,

harap hubungi aku, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu kalian. Saat ini juga, aku sangat berterima kasih pada Monika, dari dalam lubuk hatiku yang terdalam, dialah yang memberiku kesempatan

untuk menebus dosaku. Dialah yang membuatku dapat memiliki kehidupan yang benar-benar bahagia di separuh usiaku selanjutnya. Ini adalah hadiah yang ia berikan padaku!" [italia post]

Karena Ajili setiap hari berdoa untuk kasus di masa lalunya ini, maka Tuhan membuka jalan baginya untuk membereskannya.

Diambil dari Arus Hayat Remaja Seri 02

~Darah yang mahal~

Minggu, 23 Januari 2011
Bayangkan jika terjadi hal seperti ini padamu.

Di hari minggu, kamu mendengar ada jenis flu yang belum pernah ada sebelumnya menyerang sebuah desa di India dan menelan banyak sekali korban.

Hari senin, penyakit itu sudah menyerang Pakistan, Afganistan, Iran.

Semua berita di TV, koran membahas penyakit ini, "the mystery flu". Presiden membuat beberapa pernyataan yang mengatakan bahwa ia sudah memerintahkan semua tenaga ahli untuk mencari vaksinnya.

Tiba-tiba Presiden Perancis mengumumkan bahwa ia menutup semua perbatasan di negaranya. Tidak ada penerbangan dari India, Pakistan, dan negara-negara yang berpotensi terjangkit virus tersebut. Tetapi, sudah terlambat karena di TV disiarkan, ada seorang wanita sambil menangis berkata bahwa ada seorang laki-laki yang mati di sebuah rumah sakit di Perancis karena "the mystery flu". Panik segera melanda seluruh negeri. Negara-negara Eropa mulai menutup semua perbatasannya.

Hari selasa, Presiden Amerika Serikat mengumumkan bahwa semua penerbangan dari Eropa dan Asia dilarang masuk ke Amerika. Di mana-mana orang memakai penutup hidung.

Tetapi, semuanya sedah terlambat. Hari rabu malam, di Rumah Sakit Long Island ada 2 orang yang mati karena flu itu. Para ahli bekerja keras untuk menemukan vaksinasi yang bisa melawan virus itu.

California. Oregon. Arizona. Florida. Massachusetts. Sangat mengerikan!!! Tetapi tiba-tiba...ada pengumuman! Cara membuat vaksin telah ditemukan, tetapi perlu jenis darah tertentu.

Maka semua rakyat diminta partisipasinya untuk pergi ke rumah sakit terdekat dan memeriksakan jenis darah mereka. Kamu dan keluargamu, termasuk anak tunggalmu juga ada disana. Tak lama kemudian, ada orang yang berteriak-teriak gembira sambil memanggil-manggil nama anakmu.

Sebelum kamu menyadari apa yang terjadi, mereka sudah meyeret anakmu pergi. Sepuluh menit kemudian, keluarlah para dokter dan perawat,  mereka saling berpeluk-pelukan, menangis gembira. Seorang dokter tua datang kepadamu dan berkata, "Terima kasih, Pak. Tipe darah anakmu sangatlah cocok untuk membuat vaksin dan vaksin itu akan menyelamatkan seluruh dunia." Semua yang mendengarnya berteriak senang dan bertepuk tangan.

Tetapi kemudian, seorang perawat mangajak kamu ke samping dan menyuruhmu menandatangani sebuah kertas persetujuan. Tiba-tiba senyum di wajah perawat itu hilang, dan kamu mulai menyadari apa yang terjadi. 

"Kami tidak tahu bagaimana menyampaikannya...tetapi ini menyangkut nyawa seluruh dunia, Pak. Tolonglah tandatangani, kami memerlukan semua darahnya."

Menurutmu, bisakah kamu menandatangani perjanjian itu? Bagaimana jika anakmu bertanya, "Pa, ma, apa yang terjadi?"

Bisakah kamu mengatakan, "Anakku, kami mencintaimu, tetapi kami terpaksa..."

Bisakah kamu meyerahkan anakmu ke tangan para dokter itu dan meninggalkannya. Bagaimana jika anakmu berteriak-teriak dan memanggil-manggilmu? "Papa!! Mama!! Mengapa kalian tinggalkan aku?"

Lalu beberapa hari kemudian, ketika ada upacara pemakaman untuk menghormati anakmu yang telah berjasa, ada orang yang tertidur, ada orang yang pura-pura menaruh perhatian, ada orang yang datang hanya ingin tahu, apakah kamu tidak akan berteriak dan berkata, "ANAKKU MATI UNTUK KALIAN SEMUA, TIDAKKAH KALIAN PEDULI?!?"

SEEKers, itulah yang dirasakan Allah Bapa. Betapa besar pengorbanan yang dilakukan Bapa dengan mengorbankan Anak tunggal-Nya untuk mati menggantikan kita, tidakkah kita peduli?

1 Petrus 1:18-19
Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan darah yang mahal, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.

Diambil dari arus hayat Aku Dilahirkan kembali [1]
baca yang lainnya disini Arus Hayat
Masuk juga ke SEEKers of Christ