いらしゃいます!!

ここはりんのせかい。。。

みんなーさま、りにゅとブログよこそいらしゃいました!

チャットはわすれないで!^^

ありがとうございました!

~Pemberesan Luar Biasa~

Minggu, 06 Februari 2011

Di sebuah surat kabar Itali, muncullah berita pencarian orang yang sangat menggemparkan.

17 Mei 1992 di parkiran mobil ke 5 Wayeli [nama kota], seorang wanita kulit putih diperkosa oleh seorang kulit hitam. Karena perbuatan itu, lahirlah seoang bayi perempuan berkulit hitam. Ia dan suaminya

tiba-tiba saja harus memikul tanggung jawab untuk memelihara anak itu. Sayangnya, sang bayi kini menderita leukimia [kanker darah]. Dan ia memerlukan transfer sumsum tulang belakang segera.

Ayah kandungnya merupakan satu-satunya penyambung harapan hidupnya. Kami sangat berharap agar pelaku pada waktu itu, saat melihat berita ini, bersedia menghubungi Dr. Adely di RS Elisabeth.

Berita pencarian itu membuat seluruh masyarakat gempar. Setiap orang membicarakannya. Masalahnya adalah apakah orang hitam itu berani muncul. Padahal jelas ia akan menghadapi masalah besar.

Ia akan menghadapi masalah hukum dan ada kemungkinan merusak kehidupan rumah tangganya sendiri. Tetapi, jika ia bersikeras untuk diam, ia sekali lagi melakukan dosa yang tak terampuni.

Martha, 35 tahun, adalah wanita yang menjadi pembicaraan semua orang. Ia dan suaminya, Peterson, adalah warga kulit putih, tetapi di antara kedua anaknya, ternyata ada satu yang berkulit hitam. Hal itu

menarik perhatian setiap orang di sekitar mereka. Martha selalu tersenyum kecil dan berkata pada mereka behwa neneknya berkulit hitam dan kakeknya berkulit putih, maka anaknya, Monika, mungkin

mewarisi kulit hitam dari neneknya.

Musim gugur 2002, Monika yang berkulit hitam terus-menerus mengalami demam tinggi. Terakhir, dr. adely memvonis Monika menderita leukimia. Harapan satu-satunya hanyalah mencari pendonor sumsum

tulang belakang yang paling cocok untuknya. Dokter juga menjelaskan lebih lanjut bahwa yang paling baik adalah orang-orang yang punya hubungan darah dengan Monika. Jadi, dokter meminta seluruh

keluarga berkumpul untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang.

Raut wajah Martha berubah, tetapi tetap saja seluruh keluarga menjalani pemeriksaan. Hasilnya, tidak satu pun yang cocok. Dokter memberi tahu mereka, dalam kasus seperti Monika ini, mencari pendonor

yang cocok sangatlah kecil kemungkinannya.

Sekarang hanya ada satu cara yang paling manjur, yaitu Martha dan suaminya kembali mengandung anak lagi. Dan mendonorkan sel induk anak itu untuk Monika.

Mendengar usul ini, Martha tiba-tiba menjadi panik dan berkata tanpa suara, "Tuhan... kenapa menjadi begini?" Ia menatap suaminya, sinar matanya dipenuhi rasa ketakutan dan putus asa. Peterson

mengerutkan keningnya berpikir.

Dr. adely berusaha menjelaskan pada mereka, "Saat ini banyak orang yang menggunakan cara ini untuk menolong nyawa para penderita leukimia, lagipula cara tersebut sama sekali tidak membahayakan bayi

yang baru dilahirkan."

Martha dan Peterson hanya mendengarkan dan termenung sangat lama. Akhirnya, mereka berkata, "Kami akan memikirkannya dulu."

Keesokan harinya, ketika Dr. adely bertugas, tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka, dan masuklah pasangan suami-istri tersebut. Martha mengigit bibirnya dan suaminya, Peterson, mengenggam tangannya,

sambil berkata serius pada dokter, "ada yang  perlu kami beritahukan, tetapi kami harap Anda bisa berjanji untuk menjaga rahasia ini, karena kami sudah menyimpan rahasia ini selama 10 tahun." Dr. Adely

menganggukan kepalanya.

Sepuluh tahun yang lalu, Martha diperkosa oleh seorang berkulit hitam saat pulang kerja. Malam itu, yang bisa kami lakukan hanyalah berpelukan dengan kepedihan yang luar biasa. sepertinya seluruh langit

telah runtuh.

Tak lama kemudian, Martha mendapati dirinya hamil. Kami merasa sangat ketakutan, khawatir kalau-kalau anak yang dikandungnya merupaka milik orang hitam tersebut. Martha berencana untuk

mengugurkannya, tetapi aku masih mengharapkan keberuntungan, mungkin anak yang dikandungnya adalah bayi kami.

Begitulah, dengan ketakutan kami menunggu selama 9 bulan. Maret 1993, Martha melahirkan bayi perempuan dan ia berkulit hitam. Kami begitu putus asa, pernah terpikir untuk mengirim sang anak ke panti

asuhan.

Tetapi mendengar suara tangisnya, kami sungguh tak tega. Bagaimanapun Martha telah mengandungnya dan ia juga merupakan sebuah nyawa. Aku dan Martha adalah orang-orang yang telah dilahirkan kembali,

kami punya hati nurani. Akhirnya, kami memutuskan untuk memeliharanya dan memberinya nama Monika.

Mata Dr. adely digenangi air mata. Pada akhirnya ia memahami masalah sebenarnya. Beberapa saat kemusian, ia memandang Martha dan berkata, "Kelihatannya, kalian harus mencari ayah kandung Monika.

Barangkali sumsum tualng belakangnya cocok untuk Monika. Tetapi, apakah kalian bersedia membiarkan ia kembali muncul dalam kehidupan kalian?"

Martha berkata, "Demi anak, aku bersedia berlapang dada memaafkannya, bila ia bersedia muncul menyelamatkannya. Aku tidak akan memperkarakannya." Dr. Adely merasa terkejut akan kedalaman cinta

sang ibu.

Martha dan Peterson mempertimbangkannya baik-baik, sebelum akhirnya memutuskan memuat berita pencarian di surat kabar dengan menggunakan nama samaran.

November 2002, di surat kabar Wayeli, terbitlah berita pencarian itu. Begitu berita itu keluar, tanggapan masyarakat sangat menggemparkan.

Kotak surat dan telepon Dr. Adely kebanjiran surat masuk dan telepon. Orang-orang terus bertanya siapakah wanita itu. Mereka ingin bertemu dengannya, berharap  dapat memberikan bantuan padanya.

Tetapi, Martha menolak semua perhatian mereka, ia tak ingin mengungkapkan identitas sebenarnya, lebih-lebih tak ingin identitas Monika sebagai anak hasil pemerkosaan terungkap.

Seluruh media dipenuhi dengan diskusi tentang bagaimana cerita ini akan berakhir. Beranikah orang hitam itu muncul?

Jika orang hitam itu berani muncul, bagaimanakah masyarakat akan menilainya? akankah mereka menggunakan hukum yang berlaku untuk menghakiminya? Haruskah ia menerima hukuman dan cacian untuk masa

lalunya? Atau haruskah ia menerima pujian karena keberaniannya hari ini?

Saat itu, berita pencarian ini juga muncul di Napulese, memporakporandakan perasaan seorang pengelola toko minuman keras berusia 30 tahun. Ia seorang kulit hitam, bernama Ajili.

Tanggal 17 Mei 1992 waktu itu, adalah lembaran terkelam dalam hidupnya, merupakan sebuah mimpi terburuk di malam berhujan itu. Ia adalah sang peran utama dalam kisah ini. Tak seorang pun menyangka,

ajili yang kaya raya itu pernah bekerja sebagai pencuci piring panggilan.

Dikarenakan orang tuanya telah meninggal sejak ia masih muda, Ajili tak pernah mengenyam dunia pendidikan, maka ia terpaksa bekerja sejak muda. Ia begitu pandai dan cekatan, terus bekerja dengan giat

dan berharap mendapatkan sedikit uang juga penghargaan dari orang lain. Tetapi sialnya, bosnya merupakan seorang rasialis, yang selau mendiskriminasikannya.

Tak peduli segiat apa pun dirinya, bosnya selalu memukul dan memakinya. Tanggal 17 Mei 1992 itu, adalah ulang tahunnya yang ke 20, ia berencana untuk pulang kerja lebih awal dan merayakan ulang

tahunnya. Siapa sangka, di tengah kesibukan itu, ia memecahkan sebuah piring.

sang bos menahan kepalanya, memaksanya untuk menelah pecahan piring. Ajili begitu marah dan memukul sang bos, lalu berlari keluar meninggalkan restoran. Di tengah kemarahannya, ia bertekad untuk

membalas dendam pada si kulit putih.

Malam itu hujan sangat lebat, tidak ada seorang pun yang lewat, dan di parkiran itu, ia bertemu dengan Martha. Untuk membalaskan dendamnya akibat pendiskriminasian, ia pun memperkosa Martha yang tak

berdosa itu.

Tetapi setelah itu, Ajili panik dan ketakutan. malam itu juga, ia menggunakan uang ulang tahunnya untuk membeli tiket Kereta api menuju Napulese, meninggalkan kota Wayeli.

Di Napulese, ia menemukan keberuntungan. Ajili mendapatkan pekerjaan dengan lancar di toko milik orang Amerika. Pasangan suami istri Amerika itu sangat mengagumi kemampuannya. Akhirnya menikahlah dia

dengan anak perempuan mereka, Lina. Sejak saat itu, Ajili dipercaya untuk mengelola sebuah toko minuman keras.

Beberapa tahun itu, ia yang begitu tangkas, tak hanya memajukan bisnis toko minuman kerasnya, ia juga memiliki 3 anak lucu. Di mata pekerja lainnya dan seluruh anggota keluarga, Ajili merupakan bos yang

baik, suami yang baik, dan ayah yang baik.

Tetapi hati nuraninya tetap membuatnya tak melupakan dosa yang pernah diperbuatnya. Ia sering berdoa dan mohon ampun pada Tuhan. Ia sangat berharap Tuhan melindungi wanita yang pernah diperkosanya.

Ia juga berdoa agar wanita itu selalu hidup damai dan tentram. Ia menyimpan rahasiannya rapat-rapat, tak pernah memberi tahu siapa pu.

Pagi hari itu, Ajili berkali-kali membolak-balik surat kabar, ia terus mempertimbangkan kemungkinan dirinyalah pelaku yang dimaksud. sedikit pun ia tak pernah membayangkan wanita malang itu mengandung

anaknya, bahkan memikul tanggung jawab menjaga anak yang seharusnya bukan miliknya.

Hari itu, Ajili beberapa kali mencoba menghubungi nomor telepon Dr. Adely. Tetapi setiap kali, sebelum sempat menekan habis nomornya, ia segera membatalkannya.

Hatinya terus bertentangan, bila ia bersedia mengakui semuanya, kelak setiap orang akan mengetahui sisi terburuknya ini, anak-anaknya tidak akan mencintainya lagi, ia akan kehilangan keluarganya yang

bahagia dan istrinya yang dicintainya. Ia juga akan kehilangan penghormatan masyarakat di sekitarnya. Padahal semuanya itu diperolehnya dengna kerja keras selama bertahun-tahun.

Malam itu, saat makan bersama, seluruh keluarga mendiskusikan kasus Martha. Istrinya, Luna berkata, "Aku sangat mengagumi Martha. Bila aku di posisinya, aku tidak akan memiliki keberanian untuk

memelihara anak hasil pemerkosaan hingga dewasa. Aku lebih mengagumi lagi suami Martha, ia sungguh pria yang patut dihormati, tak disangka ia dapat menerima anak yang demikian."

Ajili termenung mendengarkan pendapat istrinya, dan tiba-tiba ia mengajukan pertanyaan, "Kalau begitu, bagaimana kau memandang pelaku pemerkosaan itu?"

"sedikitpun aku tak memaafkannya!!! waktu itu sudah membuat kesalahan, kali ini ia juga cuma meringkuk menyembunyikan dirinya sendiri, ia benar-benar begitu rendah, begitu egois, begitu pengecut!"

demikian istrinya menjawab dengan dipenuhi api kemarahan. Ajili mendengarkan saja, tak berani mengatakan apa pun pada istrinya.

Malam itu, anaknya yang baru berusia 5 tahun begitu rewel dan tidak bersedia tidur, untuk pertama kalinya Ajili kehilangan kesabaran dan menamparnya. Sang anak sambil menangis berkata, "Kau ayah yang

jahat, aku tak ingin kau menjadi ayahku!"

Hati Ajili terpukul keras mendengarnya, ia pun memeluk erat-erat sang anak dan berkata, "Maaf, ayah tak akan memukulmu lagi. Ayah yang salah, maafkan ayah."

Sampai di sini, ajili pun tiba-tiba menangis. sang anak terkejut dibuatnya, dan buru-buru berkata padanya untuk menenangkan ayahnya, "Baklah, kumaafkan. Guru TK ku bilang, snsk ysng baik adalah anak

yang mau memperbaiki kesalahannya."

Malam itu, Ajili tak dapat tidur, ia merasa dirinya bagaikan terbakar dalam neraka. Di matanya selalu terbayang kejadian di malam berhujan deras itu. Ia sepertinya dapat mendengarkan jerit tangis wanita

itu.

Mendengar bunyi napas istrinya yang teratur, ia pun kehilangan seluruh keberaniannya untuk berdiri. Hari kedua, ia hampir tak tahan lagi rasanya. Istrinya mulai merasakan adanya ketidakberesan pada

dirinya, memberikan perhatian padanya dengan menanyakan apakah ada masalah. Dai ia mencari alasan untuk meloloskan dirinya.

Setelah berhari-hari memeriksa hati nuraninya, Ajili tak lagi dapat terus diam saja, ia pun menelepon Dr. adely. Ia berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya supaya tetap tenang, "Aku ingin mengetahui

keadaan anak malang itu."

Dr. Adely memberi tahu bahwa keadaan sang anak itu sanga parah, "Entah apakah ia dapat menunggu hari kemunculan ayah kandungnya." Kalimat terakhir ini menyentuh hati Ajili yang paling dalam, suatu

perasaan hangat sebagai ayah mengalir keluar, bagaimana pun anak itu juga merupakan darah dagingnya sendiri!

Ia pun membulatkan tekad untuk menolong Monika. Ia telah melakukan kesalahan sekali, tak boleh membiarkan dirinya meneruskan kesalahan ini. Malam itu juga, ia memberanikan dirinya untuk memberi tahu

sang istri tenatang segala rahasianya. Terakhir ia berkata, "Sangat mungkin bahwa aku adalah ayah Monika. Aku harus menyelamatkannya."

Lina sangat terkejut, marah, dan terluka, mendengar semuanya, ia berteriak, "Kau PEMBOHONG!" Malam itu juga ia membawa ketiga mereka dan lari pulang ke rumah ayah ibunya. Ketika ia memberi tahu ayah

ibunya tenatang kisah Ajili, mereka berusaha meredakan kemarahannya. Mereka adalah dua orang tua yang penuh pengalaman hidup, mereka menasihatinya, "Memang benar, kita patut marah terhadap segala

tingkah laku Ajili di masa lalu. Tetapi pernahkan kamu memikirkan, berapa banyak keberanian yang diperlukan Ajili untuk membereskan masa lalunya? Hal itu membuktikan bahwa hati nuraninya belum

sepenuhnya terkubur. Suami maca apa yang ingin kamu miliki, seorang suami yang pernah melakukan kesalahan tetapi bersedia memperbaiki kesalahan atau seorang suami yang menyimpan kebusukan ini

selmanya?" Mendengar itu Lina terpekur beberapa lama.

Keesokan harinya, ia langsung kembali ke sisi Ajili, menatap mata sang suami yang dipenuhi penderitaan, ia berkata, "Ajili, pergilah menemui Dr. Adely! aku akan menemanimu."

Tanggal 3 Februari 2003, suami istri Ajili menghubungi Dr. Adely. Tanggal 8 Februari, pasangan tersebut tiba di RS Elisabeth, untuk pemeriksaan DNA Ajili. Hasilnya Ajili benar-benar ayah Monika.

Ketika Martha mengetahui bahwa orang hitam pemerkosannya itu pada akhirnya berani muncul, ia pun tak dapat menahan air matanya. Sepuluh tahun ini ia terus memendam rasa dendam terhadap Ajili, namun

saat ini ia hanya dipenuhi perasaan terharu.

Segalanya berlangsung dalam keheningan. demi untuk melindungi pasangan Ajili dan pasangan Martha, pihak RS tidak mengungkapkan keadaan sebenarnya, mereka hanya memberi tahu media bahwa ayah

kandung Monika telah ditemukan.

Berita ini mengejutkan seluruh kota. Mereka teru-menerus menelepon, menulis surat pada Dr. Adely, memohon untuk dapat menyampaikan kemarahan mereka pada orang hitam itu, sekaligus penghormatan

mereka padanya. Mereka berkata, "Ia memang pernah melakukan kejahatan, namun saat ini ia adalah seorang pahlawan!"

Tanggal 10 Februari, Martha dan suaminya memohon untuk dapat bertemu muka dengan Ajili. Awalnya Ajili tak berani menemui mereka, namun pada permohonan yang ketiga, ia pun menyetujuinya. Tanggal 18

Februari, dalam ruang tertutup dan dirahasiakan di RS, Martha bertemu langsung dengan Ajili.

Mereka saling berjabat tangan. Sesaat ketiga orang tersebut diam tanpa suara menahan kepediahan, sebelum akhirnya air mata mereka sama-sama mengalir.

Dengan suara serak Ajili berkata, "Maaf...mohon maafkan aku! Kalimat ini telah terpendam dalam hatiku selama 10 tahun. Hari ini akhirnya aku mendapat kesempatan untuk mengatakannya langsung kepadamu."

Martha menjawab, "Terima kasih kau mau muncul. Semoga Tuhan memberkati, sehingga sumsum tulang belakangmu dapat menolong putriku."

Tanggal 19 Februari, dokter melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang Ajili. Untungnya, sumsum tulang belakangnya sangat cocok bagi Monika. Sang dokter berkata dnegan antusias, " Ini suatu

keajaiban!"

Tanggal 22 Februari 2003, harapan masyarakat luas akhirnya terkabul. Monika menerima sumsum tulang belakang Ajili, dan pada akhirnya Monika telah melewati masa kritis. Satu minggu kemudian, Monika

boleh keluar RS dengan sehat walafiat.

Martha dan suaminya memaafkan Ajili sepenuhnya, dan secara khusus mengundang Ajili dan Dr. Adely datan ke rumah mereka untuk merayakannya. Tapi hari itu Ajili tidak hadir, ia memohon Dr. adely

membewa suratnya bagi mereka.

Dalam suratnya ia menulis, "Aku tak ingin kembali mengganggu kehidupan tenang kalian. Aku berharap Monika berbahagia, selalu hidup dan tumbuh dewasa bersama kalian. Bila kalian menghadapi kesulitan,

harap hubungi aku, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu kalian. Saat ini juga, aku sangat berterima kasih pada Monika, dari dalam lubuk hatiku yang terdalam, dialah yang memberiku kesempatan

untuk menebus dosaku. Dialah yang membuatku dapat memiliki kehidupan yang benar-benar bahagia di separuh usiaku selanjutnya. Ini adalah hadiah yang ia berikan padaku!" [italia post]

Karena Ajili setiap hari berdoa untuk kasus di masa lalunya ini, maka Tuhan membuka jalan baginya untuk membereskannya.

Diambil dari Arus Hayat Remaja Seri 02

0 コメンット:

Posting Komentar